Jumat, 19 Desember 2014

FF BTS/JIMIN [ONESHOOT]- I'M COMEBACK


Title                 : I’m Comeback [Oneshoot]
Author              : Aina Mardiyah
Cast                : Park Jimin aka Jimin
                          Han Yuri aka Yuri               
Other Cast     : *temukan sendiri
Rating              : PG-15
Genre             : Sad, Romance
Disclaimer     : Annyeong Aina imnida!!!! Ini FF kedua yang aku buat untuk BTS dan para A.R.M.Y tercinta, FF pertama belum aku post karena special untuk tahun baru. FF nggak nyambung, asal buat yang aku bikin hampir 1 bulan karena selalu ditunda, haha. FF ku ini masih banyak kekurangan. Thanks buat admin yang udah post FF ini.

#YURI’S POV          
            Aku duduk terdiam menekuk lututku di bawah pohon maple yang sedang merontokkan daunnya itu dengan memandangi sebuah danau yang indah nan sunyi ini. Tiap hari aku kesini hanya untuk menunggu seseorang yang aku cintai, Aku selalu membayangkan jika dia tiba- tiba datang dihadapanku saat ini juga, mungkin aku akan langsung memeluknya dengan erat dan tak kubiarkan dia pergi dari pandanganku. Park Jimin , Aku merindukannya, aku merindukan kenangan yang indah 3 tahun yang lalu, bagaimana dia menyatakan perasaannya di depanku, bagaimana dia menyayangiku bak seorang putri, dan dia selalu menjagaku dengan baik, betapa sedihnya aku ditinggalkan olehnya tanpa sepatah kata pun. Tidak tahu bagaimana kabarnya, tinggal dimana dan sedang apa, aku ingin mengetahui semuanya. Hubungan kita menggantung dan kita berdua Lost Contact, nomornya tidak aktif, setiap hari kukirimi dia email tetapi tidak pernah dibalas 1 kali pun dalam 3 tahun, Apa kalian kuat jika kalian seperti aku? Sayangnya aku masih mencintainya dan selalu menunggunya tapi apa perasaannya sama seperti perasaanku saat ini? Aku harap jawabannya adalah Iya.
            Aku Han Yuri, dipanggil Yuri, aku tinggal di rumah yang sederhana nan klasik. Aku tinggal sendirian, orang tuaku sudah meninggal. Aku seorang guru di salah satu sekolah menengah atas sebagai guru bahasa Inggris, Aku cukup muda dan pandai dengan umurku yang 23 tahun dan sudah menjadi seorang guru yang handal. Di lain sisi aku juga mengikuti kegiatan sosial yaitu Palang merah. Aku ingin bergelut dibidang kesehatan walau tidak seluas pengetahuan seorang dokter.
            “Han Yuri, kau akan ditugaskan berangkat ke China untuk menolong beberapa korban jiwa yang telah terkene gempa bumi bersama teman yang lain,” Ucap temanku  salah seorang anggota palang merah
            “Aku tahu, kapan?,” Tanyaku memandang agak malas kearahnya
            “Hey hey kau ini kenapa? Kau dilanda galau lagi? apa kau masih merindukannya hm? Lebih baik kau berpacaran denganku saja,” Canda teman ku yang satunya lagi sambil tertawa
            “Aku tidak berbicara denganmu, Aku berbicara dengan Jimmy,” Jawabku dingin
            “Besok kau harus sudah berangkat,” Jawab temanku yang bernama Jimmy itu
            “Aku tahu, untung saja besok aku libur,” Ucapku sambil mengelus- elus dada lega
            Esok hari aku harus berangkat ke China tepatnya di Guang Zhou. Malam ini aku harus mempersiapkan barang- barang yang akan aku bawa. Setelah mempersiapkan semuanya, Aku berbaring di tempat yang paling empuk bagaikan awan, tempat tidur. Perlahan aku terlelap dan akhirnya tidur.
            Aku duduk diam menangis meratapi pohon maple yang berada didekat danau. Tiba- tiba terdengar suara langkah kaki perlahan dan meneriakkan namaku, Tak asing dengan suaranya, Aku langsung menoleh kebelakang dan kudapati seseorang yang aku tunggu selama ini dengan berlumuran darah.
            ~AAAAAAHHHHHH~
            “Oh Tuhan, ini hanya sebuah mimpi, tetapi kenapa perasaanku tidak enak ya, ah lupakan,” desisku sendiri dengan menggeleng- gelengkan kepala supaya hal yang ada didalam mimpi tidak menjadi kenyataan
            Hari ini aku berangkat ke Guang Zhou, China untuk menolong para korban yang sedang membutuhkan. Setelah sampai disana, ternyata banyak sekali korban yang berjatuhan, Gempa bumi nya terlalu besar sehingga bangunan- bangunan yang dulunya menjulang tinggi sekarang sudah rata dengan tanah, Inilah kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa ba bi bu aku menolong satu persatu korban dengan gesit. Tapi, tiba- tiba disaat aku mengobati salah satu korban kegiatanku terhenti sesaat dikarenakan dihadapanku muncul seseorang yang wajah nya yang tak terasa asing dimataku, tetapi orang mirip sangat banyak. Aku pun menyuruhnya duduk dan melanjutkan aktivitasku yang terhenti.
            Setelah selesai mengobati salah satu korban, korban yang lain seperti yang wajahnya mirip dengan seseorang yang aku tunggu selama ini kusuruhnya berbaring. Aku mendengarkan detak jantungnya, Normal, hanya saja wajahnya banyak sekali dengan luka memar dan dipenuhi darah. Perlahan aku bersihkan darahnya dan mengobati memar- memar yang berada di kepalanya. Setelah semuanya selesai aku melihat nya dengan jarak pandang 2 langkah dihadapannya. Tiba- tiba dia mengucapkan sesuatu
            “Yuri terima kasih, lama tidak bertemu” Ucapnya dengan senyum yang selalu membuatku terpana melihatnya
            Aku diam dan terkejut melihatnya, Aku benar- benar  merindukannya, sayangnya saat ini aku sedang bekerja. Kubalikkan badanku berniat untuk meninggalkannya, akan tetapi kurasakan pergelangan tangannya memegang erat tanganku
            “Maafkan aku” Ucapnya dengan wajah tertunduk sedih
            “Kita perlu bicara, tetapi bukan sekarang, sekarang aku harus mengobati korban yang lain” Ujarku dengan melepaskan tangannya dari tanganku
            ~Bruuuuuuk~
            “Jimin....?? Kau tidak apa? Bangun? Hey Jimmy bantu aku!,” Teriakku kepada Jimmy yang kebetulan berada di dekatku
            “Oh oke- oke”
            Aku khawatir akan keadaannya, apa ini pertanda akan mimpiku semalam, mustahil, aku tidak percaya mimpi bisa menjadi kenyataan. Sambil menunggu keadaannya, aku mengobati korban yang lain. Hari ini begitu melelahkan. Tiba- tiba terdengar teriakan seseorang yang tidak jauh dari belakangku
            “Hey Yuri, kau dapat masalah, kau dipanggil ketua sekarang”
            “Masalah? Apa?” Tanyaku kebingungan kepada Jimmy
            “Cepatlah kau kesana!” Suruh Jimmy sambil mendorongku menuju tempat tenda ketua
*Plaaaaaakkkk.....
            “Apa kau gila hah?” Teriak ketua tepat dihadapanku
            “....................” Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Ketua, karena aku tidak tahu apa masalahnya
            “Pasien yang baru kau tolong tadi, apa kau tidak memeriksa bagian kepalanya? Dia mengalami pendarahan otak!”
            “............” Aku tidak bisa menjawab apapun. Saat ini fikiranku tertuju kepada satu orang yaitu Jimin
            “Jangan kau ulangi kesalahan seperti ini lagi!, Arraseo?,” Bentak Pak Ketua dihadapanku dengan berkacak pinggang
            “Ne, Arraseumnida,” Jawabku lemas
            “Sekarang, Kita kehabisan stok darah A untuk pasien Jimin, mungkin stok darah datang sedikit terlambat karena keadaan jalanan yang cukup sulit, Tetapi dia membutuhkannya sekarang, apa kau bisa mencarikan pendonor darah A secepat mungkin?” Tanya Pak Ketua kepadaku
            “Ambil saja darahku, mungkin akan cocok,” Jawabku lantang
            “Okey, akan kusuruh dokter mengeceknya dulu, masuklah kesana,” Suruh Pak Ketua kepadaku
            Tidak lama menunggu hasil cek darah,ternyata darahku dengan darah Jimin sama, Aku pun mendonorkan darahku untuk Jimin, Aku akan menolong Jimin semampuku, Aku mencintaimu Park Jimin.
            Setelah pendonoran selesai, aku keluar ruangan untuk melanjutkan aktivitas ku yang tertunda . Aku berusaha menolong orang- orang sebaik mungkin agar tidak ada kesalahan lagi.Ku lihat jam tangan yang melingkar di tanganku, jam menunjukkan pukul 5 sore, aku belum istirahat sedari tadi, aku lelah.
            “Nona, tidak apa-apa? Wajah anda terlihat pucat,” Ucap salah seorang pasien yang aku rawat
            “Tidak apa, aku hanya sedikit lelah,” Jawabku
            “Nona, istirahatlah” Pinta pasien tersebut kepadaku
            “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tetapi aku baik- baik saja, aku akan kembali ke base” Ucapku kepada nya
            Aku pun berjalan agak limbung menuju base, tetapi tidak ada orang disana, aku pun pergi menuju ruang opname untuk melihat Jimin. Setelah sampai, aku membuka pintu perlahan dan mendapati Jimin yang tertidur lelap disana, mungkin terkena efek obat bius. Aku pun mendekati tempat tidurnya dan duduk disampingnya, aku mengenggam erat tangannya dan perlahan aku meletakkan kepalaku di tempat tidur Jimin. Aku pun perlahan tertidur.
            Tak lama kemudian, aku merasa rambutku disentuh oleh seseorang, aku pun sedikit terlonjak dan bangun. Ternyata Jimin sudah siuman.
            “Oppa,!” Aku pun reflek memeluk erat Jimin. Dia pun hanya membelai rambutku
            “Bogoshipta Yuri-ah,” Ucapnya pelan tetapi masih terdengar di telingaku. Suara lembut yang keluar dari mulut Jimin, aku benar- benar merindukannya
            “Yuri-ah mianhae,” Ucapnya penuh sesal
            “Gwaenchana Oppa, Tetapi kau tahu aku sangat merindukanmu! Bertahun- tahun aku menunggumu, menunggu kabar darimu, hubungan kita menggantung karenamu          Oppa, Kau dimana saja?,” Ucapku dengan menahan buliran air mata yang akan keluar
            “ It..itu, Jeongmal mianhae Yuri-ah, Sebenarnya aku sudah menikah,” Ucap Jimin menyesal
            “Mworago? Gotjimal!,” Ucapku dengan sedikit teriak
            “Nde, Jeongmal Mianhae,” Ucap Jimin dengan menarik pergelangan tanganku
            “.....” Ku tepis tangannya kasar
            “Neo jinjja!,” Ucapku tertahan dan membalikkan badanku menuju keluar ruangan
            Setelah menutup pintu ruangan, aku pun terjatuh dan menangis dalam diam. Aku tidak percaya jika dia sudah menikah, sia- sia aku menunggu bertahun- tahun untuknya, buat apa? Pada akhirnya pun tidak ada artinya. Aku menyesal menunggu Jimin selama ini, Aku wanita yang bodoh, benar- benar bodoh
            Keesokan harinya aku berniat pulang ke Korea. Aku beralasan kepada Pak ketua ada tugas mendadak padahal aku ingin menghindari diri dari Jimin. Pak Ketua pun menyutujuinya. Aku pun berniat keluar dari base, Aku pun membuka tirai tenda dan aku pun terkejut melihat sosok pria tidak terlalu tinggi namun baby face dan imut yang baru saja menyakiti hatiku kemarin
            “Aku akan ikut denganmu,” Ucapnya tiba- tiba yang sontak membuatku melotot
            “Csh, Mworago?Ikut denganku? Micheoso?,” Ucapku marah
            Aku pun melanjutkan perjalananku dengan sedikit sedih dan bingung, apa Jimin serius akan ikut denganku ke Korea.
            “ Ya!!! Yuri-ah! Berhenti! Aku ikut denganmu, aku serius, aku tidak ingin disini!” Teriak  Jimin kepadaku
            Aku pun cuek dan tetap melanjutkan perjalananku, tiba- tiba kurasakan ada seseorang yang jalan dibelakangku. Aku pun berhenti tiba- tiba dan
~Brukk~
            “Aww, Ya! Jika kau berhenti, kenapa tidak bilang huh” Ucapnya kesal sambil mengusap- usap badannya yang sakit itu
            “ Terserah,” Ucapku singkat dan melanjutkan perjalananku
            Tak lama kemudian aku pun mendapatkan taxi, aku pun menaikinya, Jimin pun begitu tiba- tiba dia sudah duduk di kursi depan. Sungguh cepat.
            Aku hanya diam saat perjalanan sampai pulang ke Korea. Rasanya sungguh aneh berada di dekat Jimin sekarang, apa karena dia sudah menikah? Sedari tadi dia hanya mengikutiku sampai perjalanan pulang ke rumahku, aku membiarkannya masuk ke rumah karena aku lelah dan malas untuk berbicara sekarang.
            Aku pun berjalan menuju kamar mengambil selimut dan bantal untuk Jimin, kebetulan di rumah hanya ada satu kamar, Jadi Jimin akan tidur di sofa.
            “Cah, selimut dan bantalnya”, Ucapku
            “Gomawo, maaf sudah merepotkanmu”, Ucap Jimin sambil menundukkan kepalanya
            “Jika kau lapar ada beberapa bungkus ramen di dapur, kau bisa memakannya”,
            “Makanlah denganku, aku yang akan memasaknya”, Pintanya kepadaku
            “Aku lelah, aku mau tidur”,
            “Arraseo, jalja” ,Ucapnya sambil tersenyum kepadaku
            Aku pun pergi ke kamar, merebahkan tubuhku sesaat, aku memegang dadaku, ada sesuatu yang sakit disini, aku memukulnya perlahan, tak terasa buliran air mata ku sudah keluar. Semakin lama air mataku bertambah deras seperti aliran sungai.
“Hiks hiks, neomu appaseo!!!!”, Isakku sambil memukul- mukul dadaku
            Aku pun menangis di bawah bantal, agar Jimin tidak bisa mendengar isakkan ku
~TOK TOK TOK~
            “Yuri-ah apa kau sudah tidur?,” tanya Jimin dari luar
            Aku pun terkejut dan langsung berdiri, tapi tiba- tiba kepalaku sangat pusing dan badanku limbung, aku pun tak bisa menahannya dan kemudian aku pun terjatuh,
~BRUK~
            “Yuri-ah, gwaenchana?”, Tanya Jimin dari luar dan langsung membuka pintu kamarku
            “Yuri-ah”, Teriaknya kepadaku
            Samar- samar aku mendengar teriakannya, perlahan kemudian semuanya gelap.

JIMIN’S POV
            Aku merasa bersalah kepada Yuri, kekasihku dulu yang masih aku sayangi. Banyak hal yang terjadi di China, aku dijodohkan oleh yeoja pilihan ibuku. Ibuku memaksaku untuk menikahinya, yeoja itu pun juga hanya pasrah menerimanya. Kita menikah bukan karena cinta, tetapi karena orang tua. Aku belum mempunyai anak, istriku sudah meninggal mendahuluiku karena penyakit yang dideritanya yaitu kanker hati. Aku belum menceritakan sepenuhnya kepada Yuri, tetapi tidak ada waktu sedari tadi untuk mengobrol. Sejujurnya aku masih mencintai Yuri. Yuri, maafkan aku.
            Aku pun menggendong Yuri dan membaringkannya ke tempat tidur. Aku pun melihat wajahnya yang penuh dengan keringat, dan juga matanya yang sembab, dan juga badannya agak panas. Aku benar- benar kasihan jika melihatnya seperti ini, membuat hatiku sangat sakit, ini semua salahku. Apa dia menangis karena ku? Jika iya, aku benar- benar lelaki bodoh dan kurang ajar.
            Aku tinggalkan Yuri sebentar untuk mengambil handuk hangat, air putih dan juga obat penurun panas. Setelah kuambil semua, perlahan aku pun membuka 2 kancing kemejanya membasahinya lehernya dengan handuk hangat, kemudian menaruh handuk lainnya di kepalanya. Sesudah itu aku pun memijat kakinya dan tangannya. Aku pun mengusap rambutnya perlahan, tak terasa air mataku menetes
            “Yuri-ah mianhae, ini semua salahku, maaf telah membuatmu sakit hati”, Ucapku pelan kepada seseorang yang tidur dihadapanku saat ini
            “Engghh”, lenguh Yuri yang perlahan sadar
            “Yuri-ah minumlah”, Pintaku sambil menyodorkan obat penurun panas dan air putih
            “Tak usah, kau pergilah tidur, aku yakin kau sangat lelah”, Ucapnya pelan
            “Yuri-ah aku akan menjagamu malam ini, kau demam”, Pintaku kepadanya
            “Jimin-ssi, jika kau tidak pergi sekarang juga dari kamarku, Jangan pernah menemuiku lagi!”, Ucapnya dengan sedikit membentak
            Aku pun pergi meninggalkannya, tetapi langkahku terhenti di depan pintu, aku kembali menuju kedalam kamarnya, dia hanya terkejut melihat ku, kemudian aku menariknya kedalam pelukanku.
            “Yuri-ah, aku merindukanmu, jeongmal bogoshipeosseo”, Ucapku lembut kepadanya
            “Lepaskan!!”, Teriaknya marah kepadaku
            “Tidak, aku tidak akan melepaskan pelukan ini, aku ingin kembali kepadamu”, Ucapku
            “...............”
            “Yuri-ah”, Panggilku
            Aku pun melepaskan pelukanku tetapi ternyata dia pingsan dipelukanku, Aishh bodoh , kenapa aku membuatnya pingsan lagi, Aku pun membaringkannya dan aku pun tidur di samping Yuri untuk menjaganya. Aku pun membelai lembut rambutnya, pipinya, hidungnya, matanya, dan juga bibirnya, aku merindukan semuanya, Aku pun mengecup kening Yuri tetapi tiba- tiba Yuri siuman.
            “Gwaenchanayo?”, Tanyaku lembut kepadanya
            “Hm, gomawo sudah menjagaku”, Ucapnya lembut kepadaku
            “Yuri-ah, aku ingin mengatakan sesuatu”,
            “Besok saja  aku lelah”, Ucapnya dengan mata yang sudah terpejam
            “Yuri-ah aku merindukanmu”,
            “Nado Oppa, sekarang tidurlah di sofa, jangan disini”,
            “Arraseo, Jalja”,
------------Keesokan Harinya---------------
            Aku terbangung dari tidurku karena sentuhan lembut di wajahku, Aku kira ini hanya mimpi, aku melihat sosok perempuan yang cantik dan juga tersenyum lembut kepadaku
            “Oppa, bangunlah, Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.”, Ucap Yuri kepadaku
            “Arraseo, aku akan mencuci wajahku terlebih dahulu.”,
-------------------------------
            “Hmm, mashita! Masakanmu rasanya tidak pernah berubah yuri-ah.”,
            “Tentu saja.”,
            “Yuri-ah, aku ingin memberitahu sesuatu kepadamu.”, Ucapku mulai serius
            “Apa?Katakanlah.”,
            “Sebenarnya istriku meninggal saat beberapa bulan setelah menikah denganku.”,
#YURI’S POV
            “Sebenarnya istriku meninggal saat beberapa bulan setelah menikah denganku.”, Ucap Jimin yang membuatku ternganga akan ucapannya tadi
            “Aku turut berduka cita oppa, Dia meninggal karena apa?”,
            “Dia mengidap penyakit kanker hati, Dia wanita yang malang.”,
            “Lalu, Apa tujuan Oppa kemari?”, Tanyaku penasaran
            “Untuk kembali disisimu, Aku ingin membahagiakanmu Yuri-ah.”, Ucapnya dengan mengenggam tanganku lembut
            “Tidak secepat itu Oppa.”, Ucapku ketus sambil melepaskan tanganku dari genggamannya
            “Waeyo?”,
            “Waeyo? Apa Oppa tidak sadar apa yang Oppa lakukan selama ini terhadapku?”, Ucapku sambil menggebrak meja
            “Mianhae....”, Ucapnya sambil berjalan menuju dibelakang kursi yang aku duduki dan memeluk leherku dari belakang.
            “Jeongmal Mianhae Yuri-ah, Aku tahu aku salah, Mohon maafkan aku, Aku tidak tahu jika kau semenderita ini, Aku tidak tahu jika kau menungguku, Maafkan aku tidak memberi satu kabar pun kepadamu, Aku bingung pada saat itu, Kumohon maafkan aku.”, Ucap Jimin sambil menangis
            Aku merasakan sesak di dadaku, tenggorokanku tercekat, aku hanya menangis mendengar permintaan maafnya, Aku sangat mencintai Jimin, Aku ingin memeluknya saat ini juga.
            Aku pun berdiri menghadap kepadanya dan langsung memeluknya dengan erat, Kita menangis bersama,Menyalurkan perasaan  kita masing- masing melalui pelukan ini.
            Tiba- tiba Jimin mendekat ke wajahku, Aku pun hanya diam melihat matanya yang aku sukai selama ini, Tak terasa hidung kita sudah menyentuh satu sama lain dan kemudian Jimin mengecup bibirku singkat,kemudian beralih ke mata ku
            “Maafkan aku telah membuat mata ini mengeluarkan banyak air mata, Kali ini aku berjanji aku tidak akan membuat mu menangis lagi.”, Dia pun mengecup mataku
            “Tuhan, Aku akan menjaga,melindungi, dan membahagiakan wanita yang ada dihadapanku ini dengan kasih sayang, Ku mohon restuilah kita berdua.”, Kemudian dia mengecup kening ku dengan lama
            “Ayo”, Ajak Jimin kepadaku dengan mengenggam erat tanganku
            “Kemana?”, Tanyaku penasaran
            Aku hanya mengikuti arah langkahnya yang menuju ke suatu tempat.
            “Mengapa kita kesini? Aku sedih melihat tempat ini, Setiap hari aku menunggumu disini”, Ucapku sedih
            “Yang penting sekarang aku sudah disini, di tempat ini, Tempat favorit kita untuk menghabiskan waktu bersama, Pohon Maple yang sendirian di dekat danau, Ini tempat kita, tempat paling romantis di dunia, hahaha”, Jelas Jimin kepadaku yang membuatku sedikit terhibur
            “Saranghaeyo Yuri-ah”,
            “Nado Saranghae Jimin Oppa”,   
            “Would you marry me?, Ucap Jimin Oppa sambil mengenggam kedua tanganku dan berlutut dihadapanku
            Aku sedikit terkejut mendengar pernyataannya, Aku bingung, Aku harus menjawab apa
            “Maafkan aku Oppa, Aku tidak bisa menolaknya”,
            “Maksudnya?”,
            “Aish kau bodoh atau apa sih, atau kau ingin memancingku hah?”, Teriakku jengkel
            “Hahahahahaha, Gomawo nae sarang”, Ucap Jimin sambil merengkuh leherku dan mencium bibirku lama

END
RCL JUSEYOOOO J
           

           


           
           
           
           

           
           
           

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar